Disusun oleh : Pebriano Saka – Pemenang 1 Lomba Menulis Artikel Peringatan Hari Lingkungan Hidup yang diselenggarakan oleh “Environmental Race” Departemen Lingkungan Hidup BEM UI 2017


Pada saat ini dunia telah masuk kedalam suatu zaman yang dinamakan Anthropocene yang berarti “Era Manusia”. Zaman ini sebenarnya ditetapkan karena aktivitas-aktivitas manusia yang ternyata telah merubah ekosistem global. Dampaknya ternyata dapat kita rasakan di kehidupan kita sehari-hari, seperti sampah plastik yang dapat kita temui dimana-mana bahkan terbawa sampai lautan, tanaman yang menghitam akibat terkubur debu asap kendaraan bermotor, sampai iklim yang tidak menentu yang saat ini terjadi di berbagai belahan dunia. Oleh karena itu, tidak menutup kemungkinan apabila bumi pada beberapa puluh tahun yang akan datang akan tertutup oleh sampah plastik, gelap tertutup abu kendaraan, dan terjadi bencana-bencana seperti yang sering divisualisasikan di televisi. Oleh karena itu, untuk menghindari kondisi lingkungan bumi yang distopia seperti itu, kita dapat melakukan beberapa gerakan kecil untuk membuat lingkungan kita menjadi lebih baik, gerakan yang nampaknya sederhana akan tetapi memiliki dampak yang luar biasa, diantaranya adalah gerakan TPS-mu, gerakan SapuSapu Tangan, Pemberantasan Kabut Sampah, dan Gerakan Maju 500 meter.

Sampah menjadi salah satu permasalahan lingkungan yang menghampiri kehidupan kita. Secara global, komposisi sampah di dunia didominasi oleh sampah organik (46%), sampah kertas (17%) dan sampah plastic (10%)[1]. Gerakan TPS-mu merupakan gerakan sederhana yang dapat kita lakukan untuk mengurangi jumlah sampah plastic dan kertas yang berserakan dijalan raya akibat perilaku membuang sampah sembarangan. Gerakan ini dapat dilakukan dengan cara menyimpan sampah plastic maupun kertas terlebih dahulu apabila tidak terdapat tempat sampah di daerah sekitar. Sampah plastik maupun kertas yang berukuran kecil dapat “disakukan” terlebih dahulu, sedangkan sampah plastik dan kertas yang berukuran cukup besar dapat dilipat-lipat menjadi ukuran yang lebih kecil kemudian “disakukan” kembali. Hal tersebut sebenarnya sederhana, dimana penulis juga sudah melakukan gerakan ini. Apabila semua orang melakukannya,  maka tidak ada lagi sampah yang berserakan di jalanan.

Gerakan SapuSapu Tangan merupakan gerakan kecil yang dapat kita lakukan untuk mengurangi konsumsi tisu yang ada di Indonesia. Walaupun konsumsi tisu perkapita Indonesia masih dibawah 1 kg per tahunnya, jauh lebih rendah daripada  Malaysia 5,8 kg, China 4,5 kg, Hong Kong 20 kg per kapita per tahunnya[2], akan tetapi penggunaan tisu tetap saja harus ditekan, mengingat ratusan ribu hektar hutan pertahunnya dibabat untuk diproses menjadi tisu. Gerakan SapuSapu tangan hadir sebagai salah satu gerakan kecil yang dapat kita lakukan. Dengan membawa beberapa helai sapu tangan yang dapat mensubstitusi peran dari tisu itu sendiri. Sapu tangan yang dibawa terdiri dari sapu tangan yang digunakan untuk keperluan pribadi dan satu lagi untuk keperluan yang lainnya. Sehingga, kita tidak perlu lagi mengkonsumsi tisu secara berlebihan nantinya, karena peran tersebut sudah digantikan oleh sapu tangan.

Selanjutnya adalah gerakan Pemberantasan Kabut Sampah. Perlu diketahui bahwa masyarakat Indonesia masih cukup banyak yang masih membakar sampah sebagai solusi atas permasalahan penumpukan sampah di lingkungan sekitar. Akan tetapi, ternyata hal tersebut menyebabkan dampak yang cukup serius terhadap lingkungan. Pembakaran sampah yang mengandung palstik ternyata melepaskan senyawa yang disebut dengan Dioksin yang dapat terakumulasi pada makhluk hidup, tidak terkecuali ikan-ikan yang terdapat dilautan[3]. Efek dari dioksin itu sendiri dapat mengubah sistem hormone mahluk hidup dan juga mengganggu pertumbuhan janin[4]. Tidak hanya itu, pembakaran sampah juga dapat menghasilkan Benzopirena yang 350 kali lebih berbahaya daripada asap rokok[5]. Senyawa ini juga bersifat karsionogenik atau senyawa yang dapat menyebabkan kanker[6]. Dari segi gas rumah kaca, sebagai perbandingan bahwa setiap 1 ton sampah yang dibakar menghasilkan 30 kg CO2. Pembakaran sampah juga memberikan kontribusi terhadap peningkatan gas rumah kaca walaupun jumlahnya relatif sedikit. Oleh karena itu, karena bahaya yang ditimbulkan oleh pembakaran sampah sangat berbahaya, maka gerakan Pemberantasan Kabut Sampah dapat dilakukan. Hal yang paling sederhana adalah dengan memberikan sosialisasi pada masyarakat setempat mengenai bahaya yang ditimbulkan dari pembakaran sampah dan juga memberikan edukasi mengenai daur ulang sampah yang dapat menjawab permasalahan sampah di daerah tersebut sekaligus menambah nilai ekonomi dari sampah itu sendiri.

Gerakan yang terakhir adalah Gerakan Maju 500 Meter. Gerakan ini didasari akan karakteristik pejalan kaki di Indonesia. Jarak 500 meter merupakan jarak nyaman yang dianggap oleh pejalan kaki. Lebih dari jarak ini, maka diperlukan fasilitas lain yang dapat mengurangi kelelahan orang berjalan[7]. Gerakan Maju 500 meter sebenarnya bertujuan untuk mengurangi penggunaan kendaraan bermotor pada jarak yang relatif pendek. Mengingat rata-rata emisi yang dilepaskan ke atmosfer dari kendaraan bermotor di Indonesia dari tahun 2010 sampai dengan 2014 mencapai 113 juta ton CO2 dan cenderung meningkat setiap tahunnya[8]. Gerakan Maju 500 meter sebenarnya menjagak masyarakat untuk berjalan kaki apabila ingin berpergian dengan jarak yang relatif pendek (untuk jarak sekitar 500 meter). Gerakan ini juga memiliki keuntungan lainya, yaitu menjaga kondisi masyarakat Indonesia agar selalu sehat melalui aktivitas berjalan kaki.

Gerakan-gerakan diatas hanyalah beberapa alternatif gerakan yang dapat kita ciptakan dan aplikasikan sendiri di kehidupan kita. Gerakan-gerakan yang disebutkan diatas sebenarnya mudah dan sederhana untuk diaplikasikan dengan dampak yang sangat luar biasa, sehingga marilah kita memulai gerakan-gerakan kita tersendiri untuk mencipatakan lingkungan yang lebih baik. Masing-masing dari kita memiliki warna dan gerakan-gerakannya masing-masing untuk tetap melindungi lingkungan kita. Tidak peduli walaupun terdapat perbedaan dalam cara kita melindungi lingkungan kita, akan tetapi kelestarian lingkugan menjadi hal yang nomor satu, melindungi bumi dan generasi yang akan datang menjadi hal yang nomor satu pula. Marilah bergerak, bergerak untuk bumi yang lebih baik.

 

Referensi :

[1] Hoornweg. “Waste Composition”. Worldbank.org. N.p., 2017. Web. 18 June 2017.

[2] Deny, Septian. “Konsumsi Tisu Masyarakat RI Masih Jauh Di Bawah      Malaysia”. liputan6.com. N.p., 2017. Web. 16 June 2017.

[3][4][5] Widya, Leonardo. “Dampak Membakar Sampah Bagi              Lingkungan”. Academia.edu. N.p., 2017. Web. 17 June 2017.

[6] Ansyori, Isa. “Beranda PUSARPEDAL”. http://pusarpedal.menlh.go.id. N.p., 2011.      Web. 18 June 2017.

[7] Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. PERATURAN MENTERI            PEKERJAAN UMUM NOMOR : 03/PRT/M/2014 /2011 TENTANG PEDOMAN   PERENCANAAN, PENYEDIAAN, DAN PEMANFAATAN PRASARANA DAN           SARANA JARINGAN PEJALAN KAKI DI KAWASAN PERKOTAAN. Jakarta:            Kementrian PUPR, 2014. Print.

[8] “Statistik Lingkungan Hidup Indonesia”. bps.go.id. N.p., 2017. Web. 18 June 2017.