Oleh: Departemen Lingkungan Hidup BEM UI 2021

Belakangan ini, media sosial Indonesia diramaikan oleh salah satu pernyataan Presiden
Amerika Serikat, Joe Biden. Ia mengkhawatirkan tentang kenaikan permukaan air laut yang akan
menenggelamkan Jakarta 10 tahun ke depan. Dalam pidatonya di Kantor Direktur Intelijen
Nasional AS pada 27 Juli 2021, dilansir dari whitehouse.gov (2021), ia mengatakan, “But what
happens—what happens in Indonesia if the projections are correct that, in the next 10 years, they
may have to move their capital because they’re going to be underwater? It matters. It’s a strategic
question as well as an environmental question.”

Isu tenggelamnya Jakarta memang sudah lama beredar. Parahnya, perlahan tapi pasti, isu
tersebut mulai terbukti nyata. Namun, sebenarnya bukan hanya Jakarta yang perlu
mengkhawatirkan masalah tersebut, melainkan juga daerah-daerah pesisir lainnya di Indonesia,
seperti Semarang, Demak, Medan, Kalimantan Barat, hingga Papua Barat (Noor dkk., 2021).

Mengadu Nasib di Pesisir

Indonesia merupakan negara kepulauan sekaligus negara maritim. Terdiri dari 17.508 pulau
dengan garis pantai lebih dari 80.000 kilometer, Indonesia memegang gelar sebagai negara
kepulauan terbesar dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia. Secara sosial ekonomi, wilayah
pesisir dan laut Indonesia memegang peranan penting bagi penduduknya. Sekitar 220 juta
penduduk Indonesia tinggal dalam jarak 100 kilometer dari pantai dengan pertumbuhan rata-rata
2 persen per tahun, dan lebih dari 150 juta orang di antaranya bergantung pada sumber daya laut
untuk mata pencaharian mereka. Semua kegiatan di pesisir dan lautan, seperti transportasi laut,
industri lepas pantai, industri angkatan laut, budidaya ikan, dan pariwisata merupakan bagian
penting dari pertumbuhan ekonomi Indonesia (Kristiyanti, 2016).

Banjir dan rob menjadi tamu tahunan warga pesisir dengan ketinggian yang kian bertambah
tiap tahunnya. Sebagian besar daerah pesisir di Indonesia merupakan dataran rendah dan saat ini,
beberapa daerah mulai tenggelam dan tidak dapat ditinggali lagi. Hal tersebut akan merugikan
warga dari berbagai aspek, mulai dari kerusakan infrastruktur hingga masalah masalah salinitas
yang dapat mengganggu kesehatan penduduk. Ancaman tersebut tidak hanya dihadapi oleh warga
Jakarta, namun juga puluhan juta warga lain yang tinggal di pesisir Indonesia. Sayangnya, banyak
dari mereka belum menyadarinya dan beranggapan bahwa ini adalah bencana alam ketika
sebenarnya manusialah yang menjadi faktor pendorong (Amindoni, 2020). Lalu, apakah yang
sebenarnya menyebabkan kondisi tersebut?

Kenaikan Permukaan Air Laut

Kenaikan permukaan air laut merupakan salah satu dampak yang berkaitan erat dengan krisis
iklim di seluruh dunia. Meskipun dampaknya dapat dirasakan secara global, beberapa area menjadi
lebih rentan daripada area lainnya, seperti area pesisir. Penyebab utama dari kenaikan permukaan
air laut adalah ekspansi termal laut dan pencairan gunung es di daerah kutub (ICCSR, 2010).
Sebanyak 90 persen gas rumah kaca yang terperangkap di atmosfer diserap oleh laut,
menyebabkan suhu air laut meningkat dan mengalami ekspansi, sehingga menambah volume air
laut (NASA, n. d.). Gas rumah kaca tersebut juga akan menyebabkan gletser dan lapisan-lapisan
es di kutub mencair dan menambah jumlah air di lautan (Lindsey, 2021).

Permukaan air laut rata-rata global telah meningkat sekitar 21—24 cm sejak tahun 1880,
dengan sekitar sepertiganya terjadi hanya dalam dua setengah dekade terakhir. Pada tahun 2019,
rata-rata permukaan air laut global naik sebesar 87,6 mm dari rata-rata tahun 1993, dengan ratarata peningkatan 2,5 mm per tahun (IPCC, 2007; NOAA, 2021). Namun, kenaikan permukaan air
laut tidak selalu sama di setiap daerah. Sebagai negara kepulauan dengan garis pantai lebih dari
80.000 kilometer, Indonesia sangat rentan terhadap kenaikan permukaan air laut. Di Indonesia
sendiri, tren rata-rata kenaikan permukaan air lautnya lebih tinggi dari rata-rata global. Melalui
penelitian menggunakan satelit altimetri, kenaikan permukaan air laut di Indonesia diperkirakan
mencapai 3,9±0,4 mm per tahun antara tahun 1992 dan 2020. Kenaikan di daerah
selatan Jawa, barat Sumatera, selatan Nusa Tenggara, dan Selat Karimata berkisar 2—4 mm per
tahun, sedangkan kenaikan tertinggi terdeteksi di bagian utara Papua yang mencapai 10—12 mm
per tahun (Triana & Wahyudi, 2020).

Peningkatan permukaan air laut berbanding lurus dengan peningkatan suhu permukaan
bumi. Lindsey (2021) memproyeksikan bahwa bahkan dengan jalur emisi gas rumah kaca serendah
mungkin, rata-rata permukaan laut global pada tahun 2100 akan naik setidaknya 0,2 meter dari
rata-rata tahun 1992. Di Indonesia sendiri, Sofyan dan Nahib (2010) memproyeksikan bahwa
kenaikan rata-rata permukaan laut pada 2100 mencapai 75±5cm dengan tingkat kenaikan rata-rata
sekitar 0,6—0,8 cm per tahun. Meningkatnya permukaan air laut akan meningkatkan risiko banjir
pesisir pula. Banjir air pasang sudah menjadi masalah serius di banyak komunitas pesisir, dan
diperkirakan akan menjadi jauh lebih buruk di masa depan dengan naiknya air laut.

Untuk melihat berita selengkapnya dapat diakses melalui tautan berikut ini:
bem.ui.ac.id/IndonesiaTenggelam

Daftar Pustaka:

Abidin, H. Z., Andreas, H., Gumilar, I., & Brinkman, J. J. (2015). Study on the risk and impacts of land subsidence in Jakarta. Proceedings of the International Association of Hydrological Sciences, 372, 115–120.

Abidin, H. Z., Andreas, H., Gumilar, I., Sidiq, T. P., & Gamal, M. (2015). Environmental impacts of land subsidence in urban areas of Indonesia. FIG Working Week, 1–12.

Amindoni, Ayomi. (2020). Perubahan iklim: Pesisir Indonesia terancam tenggelam, puluhan juta jiwa akan terdampak. https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-51797336. 

Chaussard, E., Amelung, F., Abidin, H., & Hong, S. H. (2013). Sinking cities in Indonesia: ALOS PALSAR detects rapid subsidence due to groundwater and gas extraction. Remote sensing of environment, 128, 150–161.

Indonesia Climate Change Sectoral Roadmap (ICCSR). (2010). Scientific basis: analysis and projection of sea level rise and extreme weather events. Jakarta: Ministry of National Development Planning or National Development Planning Agency, Republic of Indonesia.

Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman RI, Yayasan Lahan Basah (Wetlands International Indonesia), & Institut Teknologi Bandung (ITB). (2019). Peta Jalan (Road Map) Mitigasi dan Adaptasi Amblesan (Subsiden) Tanah di Dataran Rendah Pesisir. Jakarta. 

Lindsey, Rebecca. (2021). Climate Change: Global Sea Level. https://www.climate.gov/news-features/understanding-climate/climate-change-global-sea-level.

Sofian, I. & Nahib, I. (2010). Proyeksi kenaikan tinggi muka laut dengan menggunakan data altimeter dan model IPCC-AR4. Majalah Ilmiah Globe, 12(2), 173–181.

Triana, K. & Wahyudi, A. (2020). Sea level rise in Indonesia: the drivers and the combined impacts from land subsidence. ASEAN Journal on Science and Technology for Development, 37(3), 115–121.

Wetlands International, ITB, Diponegoro University, Kota Kita, Deltares, dan Witteveen+Bos. (2021). Assessment and Roadmap towards Adapting and Mitigating Land Subsidence in Central Java Province.